Feeds:
Pos
Komentar

Bilakah Harus Kehilangan?

Apa yang dirasakan bila kehilangan sesuatu?

Sedih? Marah? Kecewa?

Tepat sekali! dan tentunya berbagai perasaan lain yang pastinya berkecambuk dalam hati. Namun, bila kehilangan itu memang jalan yang terbaik untuk kita, harusnya kita malah bersyukur. Mungkin memang sesuatu tersebut belum waktunya untuk kita miliki, atau mungkin dari kita yang belum siap untuk memilikinya. Yang jelas, di balik setiap kejadian pasti ada  hikmahnya.

Walaupun mencoba untuk mengikhlaskan, ternyata memang tak selalu mudah. Itulah mungkin upaya keras untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kelapangan hati yang memang butuh perjuangan. Kelelahan itu memang harus dirasakan. Kenapa harus kita pungkiri? bukankah itu tanda orang-orang yang selalu berikhtiar setiap kali memperjuangkan sesuatu?

Disinilah Allah menguji kesabaran dan kekuatan hamba-hamba-Nya dalam berikhtiar. Memang tak pernah mudah ujian itu terlewati. Kalaulah kesabaran yang menang, maka bersyukurlah. Sebab, ia akan digantikan dengan ganjaran yang pasti jauh lebih membahagiakan. Yakin deh!

Sampai kini do’a itu masih terus diukir dan dilantunkan tak henti-hentinya. Dengan tetap menjaga ketenangan hati dan pikiran, itu sangat penting. Jangan sampai ketidaksabaran menjerumuskan ikhtiar tersebut.

Maka bersabarlah untuk sesuatu yang telah hilang dan sampai kini masih dinanti. Mungkin Allah sedang menyiapkan skenario terindah yang nanti akan kita nikmati, bila kita telah melewati ujian ini dengan penuh keikhlasan.

Wallahu’alam Bish Showwab..

last posting my blog mp

27 Desember 2009 @8.00 a.m

Tak terasa sudah memasuki hari ke sepuluh berpuasa ramadhan. ramadhan disetiap tahunnya selalu penuh kenangan, setidaknya selalu bertemu dan berdekatan dengan orangtua, keluarga merupakan kenikmatan tersendiri bagi saya.

Mungkin akan berbeda bagi saudara/i saya yang sudah terbiasa hidup jauh dari orangtua, tinggal di kampung halaman oranglain. dimana setiap tahunnya selalu mengikis perasaan rindu akan bisa bersua dengan orangtua dan keluarga.

Kini hampir seluruh insan yang saya temui saling berlomba-lomba menunjukkan wajah terbaiknya, teramah, senyum yang selalu terkembang, di setiap sudut masjid terlihat orang-orang yang khusyu membaca ayat-ayat cintaNya bahkan tak pernah lepas alqur’an selalu membersamainya di saku tangan. Seakan setiap jiwa larut dan hanyut oleh indahnya ayat-ayat cintaNya.

Ada yang menarik pada ramadhan tahun ini, jika beberapa tahun lalu adik-adik ‘kecil saya’ belum tersentuh dengan ansyithoh ramadhan kali ini mereka yang menjadi pionir menyemarakan ramadhan di lingkungan. mereka tidak pernah kehilangan moment untuk tidak buka puasa di rumah, hampir setiap hari mereka bergiliran untuk absen buka puasa dirumah. Kadang saya pun merindukan suasana beberapa tahun lalu (dulu) waktu kami masih sering kumpul di rumah. waktu-waktu berbuka puasa adalah salah satu saat-saat yang kami tunggu. karena di situlah kami ‘berebutan’ untuk membantu ummi tercinta menyediakan ‘santapan’ berbuka puasa untuk keluarga.

Waktu sholat tarawih adalah saat yang sangat kami tunggu, tahun ini Allah memberikan kesempatan untuk bisa sholat tarawih bersama ummi tercinta, kadang kami sempatkan untuk jama’ah di rumah bila bosan kami berjama’ah di masjid. Ada yang membuat saya merasa rindu kala azan isya itu terdengar berkumandang di lingkungan kami.

Suaranya bukan hanya merdu, bacaannya fasih. hati saya terasa diaduk-aduk kala mendengar ayat-ayat cintaNya dilantunkan dalam bacaan sholat..sangat indah ayat-ayat cintaNya itu keluar dari lisannya. Rasa kantuk sangat yang mencoba datang hinggap sesaat hilang tak bersisa, tak jarang juga saya pun terisak-isak dalam tangis yang bercampur takut, cemas dan harap. Kupikir tak salah jika banyak orang yang memilih shalat tarawih dimasjid itu setiap malamnya.

Semakin syahdu, disetiap ayat yang dilantunkah seperti kembali mengingatkan akan kisah para sahabat yang betapa mudahnya mereka bercucuran airmata manakala dibacakan ayat-ayat Allah, bahkan seorang umar bin khottab yang keras itupun luluh dibuatnya.

Saya ingin pada detik-detik berikutnya, hari-hari selanjutnya lebih banyak lagi airmata ini tertumpah karena rasa takut yang sangat dan ingin semakin mendekat padaNya. tangisan yang keluar karena kebaikan akan melahirkan benih-benih kebaikan yang terus membersamai perjalanan hidupnya, hati akan semakin lembut, lisan akan semakin santun dalam berkata..

Ada dua pilihan saat bertemu cinta, jatuh cinta atau bangun cinta.. denganMu dan karenaMu aku memilih yang kedua. Agar cinta bisa menjulang tinggi hingga ke Jannah-Nya..

Bagaimana catatan Ramadhanmu, kawan??

@Banten, 10 Ramadhan 1431H/ 20 Agustus 2010

Pemuda Langit Yang Dirindukan

Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais Al-Qarni mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nab, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hari Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sampbil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia ?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdulla, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Wajah Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Gerak

Dua ekor rusa tampak berlari kecil menelusuri semak belukar menuju puncak bukit. Sesekali, sang induk dan anak rusa ini berhenti sebentar, kemudian berlari lagi. Anak rusa tampak kelelahan mengikuti gerakan rusa induk. “Bu, kenapa istirahatnya sebentar sekali?” tanya si anak rusa sambil terengah-engah. Jarak antara keduanya pun mulai tampak lebih jauh.

Menyadari itu, sang induk rusa berhenti sebentar sambil menggerak-gerakkan kaki-kakinya. ”Ayo nak, terus bergerak!” teriak sang induk rusa ketika anak rusa ikut berhenti dan terduduk lemas. ”Bu, kenapa kita tidak duduk-duduk sebentar? Bukankah pemburu yang mengejar kita sudah tertinggal jauh?” tanya sang anak rusa sambil sesekali mengatur nafas. ”Anakku,” sapa sang induk rusa sambil menghampiri anaknya.

”Kita bergerak bukan karena semata-mata kejaran sang pemburu. Kita harus terus bergerak karena seisi alam raya ini memang dirancang Tuhan untuk selalu bergerak!” ***

Siapa pun kita, tidak selalu berada dalam keadaan seperti yang diinginkan: pencapaian target hidup yang serba mudah, sarana yang selalu mudah tersedia, dan sebagainya. Ada kalanya, hidup menyuguhkan sisi lain, jauh seperti keadaan yang diinginkan. Saat itulah, fisik dan batin menjadi teramat lelah seperti sehabis berlari dari kejaran pemburu yang menginginkan kematian kita.

Kelelahan itu menuntut fisik dan batin kita untuk berhenti bergerak. Diam, dan melupakan segalanya. Perhatikanlah, bahwa sebenarnya, di saat lelah itulah, fisik dan batin kita perlu terus bergerak. Bukankah air sungai akan menjadi kotor ketika alirannya tidak lagi bergerak. Bukankah bumi dan seisi alam ini akan hancur ketika mereka tidak mau lagi bergerak.

Gemuruh Ketidakpastian?

Bismillahirrahmanirahim

Kepadamu kukirimkan salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang sejuknya melebihi embun pagi, salam hangat sehangat sinar dipagi hari.

Untukmu..ukhti Solehah calon bidadari surga

Di setiap gelombang yang merambat dalam ketidakpastian, apa yang menjadi penentram kecuali keyakinan? dalam rentang waktu yang panjang, semua bergemuruh yang membasahi cukup hilangkan dengan ketenangan.

Siapa yang membuatmu merasa ada? akan hadir semangatnya? dorongannya? langkah kakinya? siapa sejak dulu kau tunggu di senja itu?

Rahasia dariNya-lah sebagai penentu atas ketidakyakinanmu selama rentang waktu. Entah ia yang kau suka, tak suka, biarlah selalu tersimpan dan tetap terjaga, meski kau merasa semua seolah masih samar.

Tidak ada kesempurnaan atas makhluk, yang ada kita hanya berusaha menjadi sempurna dihadapanNya. Teruslah bercahaya agar setiap sudut titik yang buram terlihat bercahaya kembali. Peganglah erat kembali cahaya itu, agar kau menemukan ‘kesegaran’ melewati hidup yang baru.

Pijakanmu masih jauh, masih panjang…bersama potongan asa harap dan segala mimpi yang masih tercipta biarlah Allah lukiskan dicatatan terindahNya.

Tak perlu kau berkata, karena tiap potongan kata yang kau keluarkan dari isi hati dan pikiranmu Allah tahu. Sebab kebersamaan tidaklah lebih layaknya seorang musafir.

Apa yang kau ketahui tentang ikhlas? Sebab ikhlas tak pernah menuntut balasan, tak pernah mengingat kebaikan yang telah dilakukan.

Biarlah kesejukan itu kembali kau rasai, lembut mengaliri relung-relung hatimu…karena keyakinan yang selalu kau tanam padaNya.. Dia akan gantikan sesuatu yang lebih baik daripadanya.

Untuk ukhti sholehah calon bidadari surga…
Tidak ada pengorbanan yang sia-sia saat kau berjalan di jalan dakwah, lelahmu, kerja keras, resahmu akan menjadi mahar yang menghantarkanmu menuju surgaNya..

Persiapkanlah, ukh.. persiapkanlah..
dengan sebaik-baik bekal yang kau miliki… dengan segala kesabaran yang kau tanam..
di kemudian hari buah itu akan kau rasai manis pada akhirnya..
jika tidak di dunia.. Surga telah menanti ‘pengorbananmu’ dalam menjaganya, menjaga keistiqomahan yang sesungguhnya tidaklah mudah.

Jatipadang, 18 Juli 2010
Markaz Pribadi

– Dalam lautan dzikrullah –

Untuk kalian yang berjuang di dunia berharap pertemuan kembali di JannahNya

Bismillahirrahmanirrahim

Kutulis dengan cahaya cinta, sebagai do’a menyambut karya kebanggaan jiwa..
semoga kau temui kedamaian disetiap menyusuri catatan kecil ini..

Berawal dari sebuah buku yang sangat ingin saya baca akhir-akhir ini dan sengaja saya pinjam dari seorang ukhti sholihah (jazakillah atas pinjamannya..), buku yang belum sempat saya beli padahal sudah terbit 3 tahun lalu.. (skala prioritas)

Entah apa yang menarik minat saya untuk menyelami, memahami semua yang tertulis di buku kecil itu.. “Cinta Di Rumah Hasan Al Banna”

Adik-adik adalah karunia dari Allah yg luar biasa, kenikmatan yang tak terhingga.. mereka saksi yang ikut mewarnai terjalnya perjalanan hidup saya dan keluarga..mereka yang juga setia mendengarkan cerita saya, kami secara bergantian bercerita.. tentang apa saja.. aktivitas kami, semangat kami, harapan kami, cita dan impian kami.. selalu kami tuangkan dalam kebersamaan..

Di rumah kecil itulah segalanya bermula… sebuah peradaban yang ingin kami bangun, kami ciptakan, semoga ikut merangkai batu-bata bangunan dakwah..

Lembar-lembar hari berikutnya banyak kisah yang kami uraikan… berawal dari lontaran kecil kalimat-kalimat emas yang terucap dari lisan adik-adik dari situlah harapan bermula..

“Ingin bisa kuliah di Malang, rindu kampung halaman itu,” begitu ujarnya..

Ah, saya tahu saya paham.. bagaimana kerinduannya untuk bisa kuliah dan kembali lagi ke kampung itu… Malang-Jawa Timur.. sebuah kota yang selalu disebut-sebut ayah dan nenek dalam setiap nostalgianya.

“Sejak kapan rindu ke kampung itu, De? Tanya saya penasaran padanya

“Tahun lalu saat kita bersama menoreh cerita perjalanan disana, dari situlah rindu itu bermula.”
“Apa yang sudah kau usahakan untuk mencapai harapanmu itu,De? Kini ikhtiarlah, biar Allah yang menentukan apa yang terbaik untukmu..untuk masa depanmu..untuk agamamu..apapun hasilnya nanti serahkan semua pd Allah, dan yakinkan dalam hati itulah yang terbaik untukmu,”

Entah apa yang membuat semangat saya berada disuhu tertinggi, kala saya melihat semangat kalian adik-adik yang saya sayangi karena Allah melontarkan kalimat-demi-kalimat pembakar semangat. di lembar kertas putih itu… kalian ukir sejarah hidup kalian. Masa depan kalian… sungguh itu yang membuat saya kian bersemangat.

Teringat kembali penggalan harapan yang sampai kini masih tertambat kuat dihati

> Hafalan setiap hari harus terus di tambah… SEMANGAT RAIH PRESTASI BERGELAR HAFIDZAH…. <

> Ngambdi di Pedalaman, PERSIAPKAN SEGALANYA MULAI SAAT INI <

> MUMPUNG MASIH  MUDA, STUDY LANJUT TERUS <

> Keliling Indonesia, Luar Negeri… <

SO??

Apa yang saya tunggu???

Rencana Allah, setelah itu rencana kita…

dan….

dari sini……

semua semangat itu bermula….

@markaz Pribadi, jatipadang -1 sya’ban 1431H-

Kang Abik pangilan akrab dari Habiburrahman El-Shirazy meluncurkan novel terbarunya dalam acara Islamic Book Fair 2010. Bagi pengemar novelnya mungkin ini sudah ditunggu-tunggu. Seting yang digunakan dalam novel ini adalah Rusia dengan kota Moskwa, ini yang agak sedikit berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang berseting Mesir.

Bila dalam Novel Ayat-ayat Cinta (AAC), Ketika Cinta Bertasbih(KCB) Kang Abik dengan lancar mengagambarkan suasana Mesir karena pernah tinggal di sana untuk belajar. Sehingga seperti menjadi biasa karena pengalamannya itu, namun di Novel ini Bumi Cinta (BC) dengan latar belakang Moskwa Kang Abik juga dengan detil menjelaskan berbagai sudut kota yang menjadi ikon-nya. Pembaca seakan di bawa ke dalam suasana musim dingin di Moskwa.

Cerita diawali dengan kedatangan Muhamad Ayyas ke Moskwa untuk melakukan penelitian mengenai Kehidupan Islam di masa Stalin. Ayyas sedang menempuh Pasca Sarjana di India, selain itu juga menyelesaikan S1 -nya di Univesitas Madinah. Devid teman satu SMP-nya dulu menjemput dan mencarikan apartemen yang sesuai dengan anggaran Ayyas. Devid menjelaskan kenapa memilihkan apartemen yang bertemanan 2 orang perempuan Rusia. Mokswa diketahui adalah sebuah kota yang penduduk menganut kebebasan seks dan pengakses situs porno terbesar di dunia.

Dengan setting seperti ini tentulah sangat berat bagi seorang Ayyas untuk mempertahankan keimanannya. Konflik mengenai hal ini sangat jelas diraskan oleh Ayyas terlebih di hari pertama dikejutkan dengan teman satu apartemen perempuan semua. Tokoh lain dalam novel ini adalah Yelena dan Linor teman satu apartemennya, Yelena mengaku sebagai Tour Guide padahal profesi sebenarnya adalah Pelacur papan atas di Mokswa yang sering melayani penjabat-penjabat penting dari negara lain.  Sedangkan Linor adalah seorang pemain biola handal dengan karkater dingin, namun belakangan di ketahui sebagai agen mosad. Tentukan dengan satu apartemen akan terjadi interaksi antar mereka dan ini merupakan godaan terbesar bagi Ayyas yang seorang bujangan. Hidup dengan 2 orang wanita cantik yang bukan muhrim-nya di negeri yang sangat bebas.

Secara tiba-tiba Profesor Tomskii yang direkomendasikan untuk menjadi pembimbing Ayyas mendapat tugas ke Istambul sehingga untuk bimbingan dialihkan kepada Assitennya yang bernama Anastasia Palazzo seorang perempuan muda cantik penganut Kristen Ortodoks. Ketiga tokoh perempuan ini yang akan mendominasi dalam novel ini, dari pertemuan yang intens antara Ayyas dan Anastasia menimbulkan rasa simpati kepada Ayyas. Karena Ayyas dalam menjawab selalu mencoba runut dan sopan dalam bertutur sehingga menimbulkan rasa di hati Anastasia. Sementara Yelena sudah mulai merasakan tidak nyaman dengan pekerjaannya yang selama ini, merasakan kekosongan jiwa. Dan Linor penuh dengan rencana-rencana Jahat terutama yang dibebankan kepada dia sebagai agen mosad. Salah satu adalah merekayasa pengemboman yang terjadi di Hotel Metropole, dengan yang menjadi tersangka adala Ayyas seorang pemuda muslim dari Asia Tenggara.

Selain dari konflik ketiga tokoh diatas, kekhasan Kang Abik selalu menjelaskan setting dengan begitu detail, sehingga Moskwa dapat tergambarkan jelas dengan Indah. Saya rasa novel ini tidak jadi dalam waktu singkat, perlu riset yang sangat mendalam tentang kehidupan Moskwa dan kasus Shabra dan Satila. Dan khas Kang Abik yang lain adalah tokoh yang cenderung sempurna, seperti Fahri di AAC, Azzam di KCB dan sekarang Ayyas. Walaupun tidak digambarkan sebagai pemuda ganteng, namun akhlaknya menarik simpati semua perempuan yang berinteraksi dengannya.

Namun selebihnya novel ini memang layak dibaca, penuh dengan pelajaran yang sangat penting .